Sudah sebulan sejak pulang dari Thailand-Malaysia-Singapura, tapi baru hari ini dapat mood buat nulis. Secara keseluruhan, acara backpacking bersama 2 orang teman saya berjalan lancar, meskipun perubahan jadwal dan estimasi biaya, tapi untungnya kami pulang dalam keadaan selamat.

Satu hal lagi yang perlu diketahui jika ingin backpacking bersama teman, pilihlah teman yang benar-benar dekat, karena akan banyak selisih pendapat ketika kalian berjalan berama. Jika kalian tidak mampu mengendalikan emosi, pulang-pulang hubungan persahabatan kalian bisa hancur, haha.. Apalagi jika backpacking sama pacar. Tapi untungnya kemarin kami bisa menyelesaikan salah paham dengan baik.

Lanjut ke cerita di Bangkok, setelah melakukan perjalanan udara selama 4 jam, akhirnya kami tiba di Don Muang Airport. Sedikit cerita, selama berada di dalam pesawat, saya bertemu dengan pemain naturalisasi Indonesia yang bermain di Persema, Malang. Siapa lagi kalau bukan Kim J. Kurniawan. Teman saya yang duduk tepat di sebelahnya langsung saya beritahu, tapi dia sama sekali tidak tahu tentang sepak bola, jadi ya gregetan aja pengen tuker tempat duduk, haha. Tapi lumayan bisa mengobrol walaupun hanya sebentar. Intinya mas Kim ini mau ngunjungi keluarganya di Bangkok, karena kakak (istri Irfan Bachdim) dan keluarganya tinggal di Bangkok sejak Irfan bergabung di salah satu klub di Thailand. Penilaian saya terhadap pesepak bola satu ini masih sama seperti ketika pertama kali melihatnya di TV, orangnya ramah.

Sesampainya di Bangkok, pertama kali menginjakkan kaki di kota ini, saya merasa familiar dengan hawa panas Bangkok. Mirip sama di Jakarta, panas walaupun sudah lewat jam 9 malam. Bandara ini ternyata jauh dari pusat kota, sehingga sedikit sekali bus yang menuju pusat kota. Berhubung kami akan bermalam di Khaosan Road, kami harus menunggu lebih dari sejam karena tidak semua bus no. 59 berhenti dekat Khaosan Road. Perlu diketahui bahwa ada 2 jenis bus no. 59, yang pertama hanya sampai Democracy Monument, dan kedua sampai Royal Hotel, carilah bus ke arah Khaosan Road dan mintalah berhenti di Royal Hotel, dari sana menyebrang ke patung yang ada di foto ini, kemudian menyebrang lagi ke Khaosan Road. Bertanyalah pada petugas Royal Hotel karena kebanyakan orang-orang yang lewat di jalan ini tidak mengerti Bahasa Inggris, dan jangan bertanya pada supir tuk-tuk karena mereka akan membawa anda berkeliling padahal tempat yang anda cari sebenarnya tinggal menyeberang jalan saja. Jika kalian melihat ada banyak wisatawan asing berkumpul, disitulah Khaosan Road berada, ditandai dengan pos polisi seperti di gambar, kemudian belok kanan. Sebelunya carilah hotel di sepanjang jalan Khaosan, karena kesalahan kami waktu itu adalah memesan hotel yang agak masuk ke gang-gang kecil sehingga sulit sekali menemukan tempatnya. Dan kesalahan kedua adalah kami memesan double bed padahal kami datang bertiga, akhirnya kami harus membayar biaya tambahan. Jadi sebaiknya memesan tempat tidur sesuai dengan jumlah orang.

khaosan

Peta menuju Khaosan Road

Khaosan Road ini ramai pada malam hari tapi sepi di pagi hari, karena banyak sekali wisatawan asing yang menikmati dunia malam atau sekedar jalan-jalan dan belanja di malam hari. Berhubung kami sampai di hotel sekitar jam 12 malam, kami memutuskan untuk langsung tidur. Keesokan harinya baru kami langsung check-out dan melanjutkan jalan-jalan dan berbelanja di Khaosan Road, dan di sinilah saya menemukan oleh-oleh pertama buat kakak dan adik saya, yaitu rok panjang dengan motif gajah. Kami juga menemukan restoran tempat syuting Running Man episode Nichkhun.

IMG_0238

Restoran tempat syuting Running Man

IMG_0242 IMG_0239 IMG_0236

Suasana Khaosan Road di pagi hari

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Grand Palace dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan menuju Grand Palace, kami disuguhi dengan pemandangan Klong Lot (sungai) yang melintang di sepanjang jalan Atsadang. Selait Klong Lot, perjalanan ini juga melewati bangunan-bangunan bersejarah lainnya seperti Ministry of Defence, Saranrom Palace, Saranrom Park, dll.

IMG_0284

City Pillar Shrine

IMG_0289

Ministry of Defence

Sepanjang jalan kami bertemu dengan orang-orang sok akrab dan menawarkan paket-paket perjalanan ke Grand Palace, Wat Arun, dan sebagainya. Jangan mudah percaya dengan orang-orang di sekitar tempat wisata, apalagi yang bisa Bahasa Inggris, karena mereka bermaksud untuk mengeruk uang wisatawan asing dengan cara mengajak ke tempat yang menjual souvenir mahal atau hanya sekedar berputar-putar di kota. Lebih aman naik bus kota atau jalan kaki jika memungkinkan.

Sebagai informasi, Rattanakosin adalah daerah bersejarah di Thailand yang ditandai dengan banyaknya peninggalan-peninggalan sejarah sepeti wat (candi) dan arca-arca. Tempat wisata yang paling terkenal di kawasan ini adalah Grand Palace yang di dalamnya terdapat Istana Kerajaan dan bangunan-bangunan lain sebagai pendukungnya. Berhubung pada saat itu sedang ada upacara keagamaan, pintu masuk Grand Palace baru dibuka pukul 12.00 waktu Bangkok. Akhirnya kami memutuskan untuk ke Wat Pho dulu. Wat Pho ini terkenal dengan Patung Budha Tidur Raksasa yang terbuat dari emas. Selain Patung Budha Tidur, banyak pula candi-candi yang bisa dijadikan objek bagus untuk difoto. Tiket masuk Wat Pho ini 100 THB.

IMG_0303

IMG_0348IMG_0304

IMG_0364

IMG_0384

Wat Pho

Setelah selesai berkeliling ke Wat Pho, kami istirahat sebentar sambil menunggu jam 12. Cuaca saat itu sangat terik dan panas, wisatawan yang berkunjungpun sangat banyak, karena saat itu adalah liburan musim panas, jadi banyak keluarga yang berwisata ke Thailand. Setelah jam 12, kami melanjutkan perjalanan ke Grand Palace yang pada saat itu baru dibuka sehingga terjadi penumpukan di pintu masuk. Meskipun dikatakan ada dua pintu masuk, yaitu depan dan belakang, sebenarnya yang dibuka untuk umum hanyalah pintu depan saja.

IMG_0389 IMG_0392

Perjalanan menuju Grand Palace

Pertama kali masuk, kami disambut dengan orang-orang yang menawarkan jasa foto dengan latar belakang taman dan jajaran candi dengan berbagai macam bentuk dan ukuran. Kamipun tidak melewatkan kesempatan untuk berfoto, tetapi tentu saya dengan kamera sendiri.

IMG_0393

IMG_0406

IMG_0409

Menuju pintu masuk Grand Palace

Setelah itu, kami membeli tiket masuk seharga 500 THB yang meliputi tiket ke Grand Palace dan museum. Berhubung atrian ke Grand Palace sangat panjang, kami menuju museum terlebih dahulu. Disana saya menemukan senjata semacam kujang dari Indonesia diantara ratusan koleksi peninggalan sejarah Rattanakosin. Tentu saja sini merupakan suatu kebanggaan bagi orang Indonesia.

IMG_0416

IMG_0439IMG_0442 IMG_0463IMG_0482 IMG_0484 IMG_0526IMG_0527IMG_0536

Grand Palace

Setelah selesai berkeliling di museum, kami melanjutkan perjalanan ke Grand Palace. Disini kami melihat berbagai macam arsitektur bangunan Thailand yang terlihat begitu megah, lebih megah dari yang ada di Wat Pho. Satu hal yang menjadi ciri khas dari bangunan-bangunan tersebut adalah banyak menggunakan material yang memantulkan cahaya, banyak sekali yang menggunakan emas sebagai pelapis dinding, sehingga banggunan-bangunan ini mempunyai kesan mewah dan megah, dan agak menyilaukan mata. Kawasan Grand Palace ini sangat luas, sehingga perlu waktu 3 jam lebih bagi kami untuk berkeliling di bawah terik matahari dengan membawa backpack di belakang punggung. Setelah puas menikmati keindahan Grand Palace, kami melanjutkan perjalanan ke hotel kedua di daerah Siam, pusat kota modern di Bangkok.