Pada postingan kali ini saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman saya mendaftar beasiswa.

Sebenarnya saya bukan tipe orang yang mengejar titel dan karir. Pada awalnya saya berfikir untuk apa kuliah tinggi-tinggi demi sebuah gelar, toh di Indonesia juga orang dengan gelar S2 malah susah mencari kerja karena perusahaan-perusahaan lebih suka mempekerjakan orang tanpa gelar dengan gaji rendah tetapi memiliki kemampuan tinggi. Prinsip ekonomi.

Kemudian suatu hari terpikir oleh saya untuk mencoba hal baru dan suasana yang baru, karena terus terang saya sudah mulai bosan dengan pekerjaan yang saya tekuni sekarang, dan melanjutkan kuliah adalah alasan yang kuat untuk resign. Akhirnya saya mencoba untuk mendaftar Korean Government Scholarship Program. Alasan memilih Korea adalah karena Hallyu Wave sedikit banyaknya telah mempengaruhi sebagian otak saya. Alasan lain adalah saya ingin meningkatkan kemampuan bahasa Inggris saya yang masih minim, sekaligus melepaskan diri dari dunia k-pop dan k-drama karena mungkin saya akan merasa bosan setelah lama tinggal di sana. Meskipun pada akhirnya gagal, tapi pengalaman mendaftar beasiswa itu sungguh tak terlupakan.

Beasiswa yang saya ikuti adalah beasiswa dari pemerintah Korea (Korean Government Scholarship Program) yang diadakan setiap tahun. KGSP ada 2, yaitu untuk program S1 yang biasanya dibuka bulan September/Oktober dan S2 & S3 di bulan Januari/Februari tiap tahunnya. KGSP Graduate Program sendiri ada 2 pilihan, daftar melalui Kedubes dan bisa memilih 3 universitas, atau daftar langsung ke 1 universitas. Waktu itu saya memilih langsung daftar ke 1 universitas karena banyak yang memberi saran kalau daftar ke universitas lebih mudah karena di kedubes biasanya ada unsur KKN, semakin banyak uang semakin besar kesempatan untuk masuk (kata teman saya yang dapat beasiswa dari University of Seoul di Korea).

Kenapa Korea University? Karena universitas itu masuk dalam 3 besar universitas di Korea (SKY = Seoul National University, Korea University, Yonsei University) tetapi kurang terdengar di luar, jadi kemungkinan peminatnya jauh lebih sedikit daripada SNU. Pertimbangan lain kenapa saya memilih universitas yang termasuk top 3 di Korea dan tidak mendaftar di universitas yang kurang terkenal yang kesempatan masuknya lebih besar adalah karena di universitas yang kurang terkenal biasanya bahasa pengantarnya bukan bahasa Inggris. Bahasa Inggris saja belum lancar, apalagi bahasa Korea. Tetapi setelah dipikir-pikir sebenarnya saya juga ingin mendaftar di Kyunghee University yang tidak masuk 10 besar universitas terbaik di Korea, karena di sana ada program interior, dan menurut salah satu web, arsitektur di Kyunghee paling bagus di Korea. Mungkin tahun depan saya mencoba mendaftarkan diri di sana. Untuk keterangan lebih lanjut tentang KGSP bisa dibuka disini http://www.niied.go.kr/eng/contents.do?contentsNo=78&menuNo=349

Front gate of Seoul National Universityhttp://snu.ac.kr/

Korea_University_main_building_and_gatehttp://www.korea.ac.kr/do/Index.do

IMAG1495http://www.yonsei.ac.kr/

Setelah menetukan universitas dan program studi yang ingin dituju, yang harus dilakukan adalah mengumpulkan berkas-berkas seperti paspor, ijazah, transkrip, Akta Kelahiran, Kartu Keluarga, surat rekomendasi, sertifikat-sertifikat yang semuanya harus dalam bahasa Inggris, serta mengisi formulir yang bisa diunduh di web tersebut.

1. Paspor

Perjalanan diawali dengan mengurus paspor, karena kita tidak bisa mendaftar beasiswa tanpa adanya paspor. Sebagai informasi, ternyata mengurus paspor tidak sesulit yang dibayangkan, cukup buka http://www.imigrasi.go.id/ pilih layanan paspor online, isi data diri, upload hasil scan KTP, Kartu Keluarga, Akta Kelahiran (ditambah Surat Nikah bagi yang sudah menikah, dan Surat Rekomendasi dari perusahaan untuk pegawai negeri dan pegawai BUMN) dan harus hitam putih. Setelah itu pilih tanggal kedatangan dan kantor imigrasi yang akan didatangi. Ketika datang ke kantor imigrasi, kita akan diminta membeli map yang berisi formulir yang harus diisi dan materai 6.000 rupiah. Berkas-berkas asli seperti KTP, KK, Akta Kelahiran harus dibawa beserta dengan fotokopiannya yang akan diserahkan ke petugas. Bedanya jika daftar online sebelum datang ke kantor imigrasi adalah esok harinya kita bisa langsung foto dan wawancara tanpa harus menunggu 3 hari untuk entri data. Bahkan di Jakarta mungkin pada hari itu juga sudah bisa langsung wawancara. Setelah itu paspor dapat diambil seminggu kemudian, dan pengambilan paspor bisa diwakilkan asal yang mengambil masih ada dalam Kartu Keluarga.

2. Ijazah dan Transkrip Nilai dalam Bahasa Inggris

Untuk Ijazah dan Transkrip Nilai ini bisa diurus di universitas yang mengeluarkan dokumen tersebut. Biasanya proses ini cukup rumit dan memakan waktu berminggu-minggu. Waktu itu saya meminta bantuan adik saya yang juga kuliah di universitas yang sama untuk mengurusnya. Sebagai tambahan, biasanya kita dikenakan biaya untuk menerjemahkan dan legalisir dokumen tersebut.

3. Akta Kelahiran dan Kartu Keluarga dalam Bahasa Inggris

Sedangkan untuk Akta Kelahiran, Kartu Keluarga, dan sertifikat lainnya bisa diterjemahkan di Penerjemah Tersumpah terdekat. Biasanya biayanya sekitar 75.000-150.000 per lembar. Cukup mahal memang.

4. Surat Rekomendasi

Untuk surat rekomendasi, kita harus meminta tanda tangan Ketua Jurusan atau Dekan atau Rektor dari universitas sebelumnya. Surat rekomendasi harus diisi sendiri dari form yang disediakan, bisa diisi oleh yang bertanda tangan atau dari kita sendiri tergantung kesanggupan masing-masing. Jika kita ingin mendaftar ke beberapa universitas, kita harus membuat surat rekomendasi untuk masing-masing universitas.

5. Sertifikat kemampuan bahasa asing

Selain yang disebutkan di atas, berkas yang harus ada adalah sertifikat kemampuan Bahasa Inggris seperti TOEFL, TOEIC, IELTS. Sertifkat yang sering dipakai di berbagai negara adalah TOEFL yang dikeluarkan resmi oleh ETC. Berhubung sertifikat TOEIC saya sudah habis masa berlakunya, tetapi karena harga tes TOEFL 1,7 juta sedangkan TOEIC 600 ribu, maka akhirnya saya memilih mengikuti tes TOEIC lagi. Untuk pendaftaran tes ini bisa dilihat disini http://www.itc-indonesia.com/. Akan sangat membantu sekali jika kita mempunyai sertifikat kemampuan bahasa Korea yang didapatkan setelah kita melakukan tes TOPIK.

6. Sertifikat prestasi

Sertifikat ini sifatnya tidak wajib. Tetapi akan menjadi pertimbangan khusus dari pihak universitas.

7. Formulir pendaftaran

Formulir yang harus diisi biasanya adalah Personal Data, Self Introduction, Study Plan, Letter of Recommendation (poin 4), Pledge, dan Personal medical Assessement. dan tentu saja semuanya harus diisi dalam Bahasa Inggris.

Setelah semua berkas terkumpul, tinggal kita kirimkan ke universitas yang kita tuju. Tidak perlu khawatir tentang bagaimana cara pengiriman berkas ke luar negeri, karena sekarang Kantor Pos Indonesia sudah menyediakan layanan Express Mail Service (EMS). Waktu itu pengiriman berkas harus diterima di Korea University tanggal 8 Maret 2013, sedangkan saya masih harus mengikuti tes TOEIC tanggal 5 maret 2013 di Jakarta. Untungnya sertifikat TOEIC bisa langsung jadi 1 jam setelah tes. Jadi, waktu itu, setelah mengikuti tes jam 14.00 WIB, sertifikat keluar jam 17.00, dan alhamdulillah skornya masih memungkinkan untuk mendaftar beasiswa di Korea. Setelah itu secepat kilat saya menuju kantor pos pusat di daerah Pasar Baru, Jakarta, karena cuma kantor pos tersebut yang buka sampai malam. Berhubung macet dan lama menunggu busway, akhirnya saya sampai di kantor pos pukul 18.30 dan langsung mengirimkan dokumen ke Korea via EMS. Dan akhirnya dokumen tersebut sampai di tujuan tanggal 7 Maret 2013, benar-benar pelayanan yang cepat.

emshttp://www.posindonesia.co.id/

Seminggu kemudian saya mendapat email dari universitas yang saya tuju untuk melakukan interview. Waktu itu saya disuruh memilih tanggal dan jam interview sendiri, dan saya di interview oleh wakil dekan teknik. Berhubung saya grogi karena ini adalah interview pertama saya dalam bahasa Inggris, akhirnya saya menjawab pertanyaan dengan membaca 😀 Mungkin karena ketahuan membaca itulah saya gagal. Tetapi setelah ada pengumuman tentang siapa saja yang lolos tahap 2, ternyata dari orang-orang yang di interview oleh wakil dekan teknik ini hanya sedikit yang lolos, atau malah tidak ada, saya kurang hafal. Yang jelas nama-nama dari daftar interview tersebut tidak muncul di daftar yang lolos tahap selanjutnya. Mungkin profesor ini penilaiannya terlalu tinggi.

Itulah sedikit pengalaman saya mendaftar beasiswa di Korea. Sungguh pengalaman yang berharga. Kegagalan ini tidak mebuat saya putus asa. Mungkin saya akan mencoba mendaftar lagi lain kali, paling tidak sampai sertifikat TOEIC saya hangus dalam 2 tahun lagi. Mumpung masih muda dan belum berkeluarga 🙂 Semangat!

Advertisements