Tempat Wisata Anti Mainstream di Singapura (edisi Museum)

1). National Museum of Singapore

Alamat: 93 Stamford Road S(178897)
Tel:(+65) 6332 3659 / (+65) 6332 5642

Jam kerja: 10am – 7pm

  Galeri Permanen (lantai 1-2) Pameran Spesial Galeri Permanen dan Pameran Spesial
Citizen & Permanent Resident
Free
 Anak-anak (dibawah 6 tahun);
Penyadang cacat
Free
 Non-Citizen & Non-Permanent Resident
Dewasa $15 $8 $18
Manula (diatas 60 tahun)  $10 $4 $11
Pelajar
Special Access3

By Bus

YMCA Bus Stop 08041:
SBS: 7, 14, 14e, 16, 36, 64, 65, 111, 124, 128, 139, 162, 162M, 174, 174e, 175
SMRT: 77, 106, 167, 171, 190, 700, 700A, NR6, NR7

SMU Bus Stop 04121:
SBS: 7, 14, 14e, 16, 36, 111, 124, 128, 131, 162, 162M, 166, 174, 174e, 175
SMRT: 77, 106, 167, 171, 190, 700, 700A, 857, NR7

SMU Bus Stop 07509:
SBS: 64, 65, 139
SMRT: 972

By MRT:

Bras Basah MRT Station (5-minute walk from Exit B or C)
Dhoby Ghaut MRT Station (5-minute walk from Exit A)
City Hall MRT Station (10-minute walk from Exit A or B)

nms-website_map

http://nationalmuseum.sg/visitors-info/opening-hours-and-admission

img_5108img_5109

 

2). Singapore Art Museum

Alamat: 71 Bras Basah Road, Singapore 189555

Jam kerja: Sabtu-Kamis 10am-7pm, Jumat 10am-9pm.

STANDARD SINGAPOREANS/PR MULTIPLE ENTRY PASS
(s/d 3x)
Dewasa $20.00 $15.00 + $3
Pelajar $10.00 $7.50 + $3
Manula (diatas 60 tahun)
National Servicemen
Anak-anak (dibawah 6 tahun) FREE FREE NA
Penyandang cacat
Paket keluarga
(2 dewasa + 2 anak / 1 dewasa + 3 anak)
$52.00 $36.00 NA

By MRT
2-minute walk from Bras Basah MRT Station.
10-minute walk from Bugis, Dhoby Ghaut or City Hall MRT stations.

https://www.singaporeartmuseum.sg/visitus/admission.html

img_5102img_5104

3). Asian Civilisations Museum

Jam kerja: Sabtu-Kamis 10am-7pm, Jumat 10am-9pm

By MRT: Raffles Place MRT station (Exit H).

map-to-acm-updated-11-feb-2016

http://acm.org.sg/visit-us/plan-your-visit

 

4). Peranakan Museum

Jam kerja: Sabtu-Kamis 10am-7pm, Jumat 10am-9pm.

Alamat: 39 Armenian Street, Singapore 179941.

By MRT: We are about a 10-minute walk from City Hall and Bras Basah MRT Stations.

 

By Bus: 7, 14, 16, 36, 77, 106, 111, 124, 128, 131, 147, 162,162M, 166, 167, 171, 174, 175, 190, 700, 700A and 857

http://peranakanmuseum.org.sg/visit-us/plan-your-visit

img_5235img_5240

5). Urban Redevelopment Authority (URA) office

Alamat: 45 Maxwell Road, The URA Centre, Singapore 069118

Jam kerja: Office -> Senin-Jumat: 8:30am- 5:00pm; City Gallery -> Senin-Sabtu: 9:00am- 5:00pm

https://www.ura.gov.sg/uol/contact-info

img_5327img_5338

 

Advertisements

Tempat Wisata Anti Mainstream di Singapura (edisi Show)

Bagi kalian yang mempunyai jadwal ke Garden by The Bay, Marina Bay Sands, Merlion Park, jangan sampai terlewatkan pertunjukan berikut ini. Jadi jangan keburu pulang atau kembali ke hotel ketika matahari terbenam ya.

 

1). Garden Rhapsody Light Show

Pertunjukan ini merupakan tontonan wajib ketika kita berkunjung ke Garden by The Bay. Light show ini mempertunjukkan lampu yang berkedap-kedip di Super Trees yang bersinergi dengan dentuman orkestra, yang lagu-lagunya tentu saja terdengar familiar di telinga kita, lagunya The Script contohnya.

Lokasi : Garden by The Bay. Biaya : gratis dan terbuka untuk umum. Jam pertujukan : 19:45, 20:45. Durasi 15 menit.

item_2-renderimage-imagepath-550-309

http://www.gardensbythebay.com.sg/en/whats-on/calendar-of-events/garden-rhapsody-light-show.html

 

2). Marina Bay Sands Light Show

Pertunjukan ini paling nyaman disaksikan di Merlion Park, karena kita bisa melihat light show dengan sudut pandang lurus di depan mata.

Lokasi : Merlion Park. Biaya : gratis dan terbuka untuk umum. Jam pertujukan 20:45, 21:45, 22:45. Durasi 15 menit.

wonderfull-lights-480x280

http://www.marinabaysands.com/entertainment/wonderfull.html

 

3). Marina Bay Water Show

Pertujukan ini bukan hanya sekedar pertujukan air mancur, tetapi juga ada semacam proyektor udara yang menampilkan cerita tertentu.

Lokasi : Event Plaza di Promenade. Biaya : gratis dan terbuka untuk umum. Jam pertujukan 20:45, 21:45, 22:45. Durasi 15 menit.

wonderfull-concept-980x340 wonderfull-screens-500x375

http://www.marinabaysands.com/entertainment/wonderfull.html

Tempat Wisata Anti Mainstream di Singapura (edisi Jembatan)

Jadi ceritanya, ini kali kedua saya berlibur ke Singapura. Tempat-tempat wisata wajib seperti Sentosa Island, Garden by The Bay, Merlion Park, Marina Bay Sands, Orchad Road, Bugis Street, Little India, China Town tentu saja sudah pernah saya jelajahi. Oleh karena itu, kali kedua ke Singapura ini saya mencoba tempat-tempat wisata yang anti mainstream dan masih belum banyak pengunjungnya.

 

1). Helix Bridge

Helix Bridge merupakan jembatan untuk pejalan kaki yang menghubungkan Marina Center dengan Marina Bay. Jembatan ini bersebelahan dengan Benjamin Sheares Bridge (Bayfront Bridge) yang sudah ada sebelumnya. Jembatan yang terinspirasi dari DNA ini lebih terlihat fantastis pada malam hari dengan adanya lampu-lampu di sepanjang struktur stainless steel nya.

img_5215img_5219img_5227img_5229

 

2). Henderson Waves Bridge

Jembatan Henderson merupakan jembatan tertinggi di Singapura yang membelah hutan belantara. Sesuai dengan namanya, bentuk dari jembatan ini mengadaptasi dari bentuk ombak. Jalur paling singkat menuju jembatan ini adalah melalui Henderson Road, sedangkan jalur paling panjang adalah melalui Alexandra Arch – Forest Walk – Henderson Road.

img_5397

img_5402

 

3). Alexandra Arch

Alexandra Arch merupakan titik awal menuju Henderson Bridge. Jembatan yang berbentuk melengkung seperti busur panah ini menghubungkan Alexandra Road, Singapore dan Hyderabad Road.

 

img_5372img_5376img_5378img_5380

 

4). Forest Walk dan Hilltop Walk

Forest Walk dan Hilltop Walk merupakan jembatan yang membelah hutan Telok Blangah Hill Park dan menghubungkan Alexandra Arch dan Henderson Bridge. Alexandra Arch – Forest Walk & Hilltop Walk – Henderson Road merupakan jalur favorit warga Singapura untuk jogging pada pagi atau sore hari. Di beberapa titik terdapat shelter untuk beristirahat sejenak.

img_5387img_5390img_5389img_5392

Cara Mendapatkan dan Menambah AirAsia BIG Point tanpa harus sering terbang

Bagi kalian yang suka traveling atau backpacking pasti pernah dengar maskapai penerbangan dengan harga paling murah ini kan. Jujur, pengalaman saya pergi ke Singapore, Malaysia, Thailand, bahkan ke Korea, semua terwujud karena Air Asia. Bukan maksud mempromosikan AA, tapi beberapa dari kalian pasti setuju dengan pendapat di atas.

1). Apa itu AirAsia BIG?

AirAsia BIG itu semacam poin yang diberikan setelah kita terbang dengan AA. Tentunya kita harus mendaftar AirAsia BIG Loyalty Programme. Tetapi jangan lupa memasukkan BIG ID waktu pemesanan penerbangan/hotel melalui AA karena jika tidak tentu saja kita tidak akan mendapatkan poin.

2). Apa keuntungan menjadi member AirAsia BIG?

Yang pertama tentu saja priority access. Pernah dengar kan kalau AA lagi promo free seat selalu mendahulukan member BIG sehari sebelum penawaran dibuka untuk umum. Jadi kita tidak perlu berebut dengan banyak orang, hanya berebut dengan sesama member BIG saja.

Keuntungan kedua tentu saja poinnya. Poin ini bisa ditukar dengan penerbangan ke dalam maupun luar negeri, atau souvenir-souvenir lucu dari AA.

bfp-grid-visual

3). Bagaimana cara mendapatkan poin AirAsia BIG?

Pertama adalah dengan melakukan penerbangan atau pemesanan hotel melalui AA. Jadi kalau kita sering-sering terbang dengan AA poin kita tentu saja akan semakin bertambah banyak.

Kedua melalui poin kartu kredit. Poin kartu kredit kalian bisa ditukar ke poin BIG. Tiap bank memiliki ketentuan yang berbeda tentunya. Selain bekerjasama dengan bank, saat ini AA juga bekerjasama dengan agoda, booking.com, zalora, dll. Jadi kalau kita belanja di zalora kita juga bisa mendapatkan poin BIG.

Lalu bagaimana kalau kita tidak sering terbang, tidak sering bepergian, tidak suka shopping, tidak punya kartu kredit? Solusinya adalah dengan mengisi survey di YOUGOV.

aabig-yougov-en-edm

“YouGov adalah perusahaan riset dan konsultasi pasar terdepan.

Misi YouGov adalah menyajikan data yang akurat secara real-time dan berkelanjutan serta insight dari apa yang masyarakat seluruh dunia pikirkan dan lakukan, sehingga perusahaan, pemerintahan dan institusi dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat yang mendukung mereka.

Sebagai anggota panel YouGov, kita akan menjadi bagian dari komunitas global yang membagikan opini dan mendapatkan poin dan hadiah sebagai gantinya. Ketika kita mendaftar, kita akan langsung mendapatkan 100 poin.”

https://id.yougov.com/id/refer/EhdDQG9oqwszipg9v_0eKQ/

Setelah kita mengumpulkan 5000 poin, poin itu bisa kita tukar ke poin AirAsia BIG. Tetapi sebelum kita mendapatkan 5000 poin tentu saja kita harus sering mengisi survey yang rata-rata setiap survey mendapatkan 150 poin. Jadi kalau dihitung-hitung kita harus mengisi sebanyak 35-40 survey baru bisa mendapatkan poin sebanyak itu.

Ini poin yang saya dapatkan setelah rajin isi survey selama kurang lebih 1 tahun. Tentu saja kesabaran membuahkan hasil.

mypoint

Bagi kalian yang belum punya akun YouGov bisa daftar disini -> https://id.yougov.com/id/refer/EhdDQG9oqwszipg9v_0eKQ/

Demikian sekilas tentang YouGov dan AirAsia BIG. Semoga bermanfaat.

Backpacking (Thailand-Malaysia-Singapore) Part 5: Kuala Lumpur

Perjalanan dari Hat Yai ke Kuala Lumpur memakan waktu lebih dari setengah hari. Kami tiba di Kuala Lumpur pukul 4 sore waktu setempat. Kamipun segera mencari hotel yang sudah dipesan sebelumnya sebelum hari gelap. Hotelnya ternyata tidak jauh dari Central Market, dan setelah meletakkan barang di hotel, kami segera berangkat ke Central Market untuk mencari oleh-oleh sambil mencari makanan.

Tentu saja sangat mudah mencari makanan halal di Kuala Lumpur. Namun jika kalian pergi ke Kuala Lumpur bulan Ramadhan, kalian akan kesusahan mencari tempat makan yang memperbolehkan umat muslim makan di tempat. Jadi meskipun sedang berhalangan puasa, makanan harus dibawa pulang. Dan makan di pinggir jalan, baik muslim atau non muslim, jika ketahuan akan ditegur banyak pihak.

Setelah selesai mencari oleh-oleh di Central Market, kamipun kembali ke hotel dan mempersiapkan untuk besok, karena rencananya kami akan segera check out jam 12 siang dan langsung menuju Singapore.

Keesokan paginya, kami menuju Petronas Twin Tower yang merupakan tempat yang harus dikunjungi ketika pergi ke Kuala Lumpur. Sayangnya kami tidak bisa ke sky bridgenya karena pada saat itu sedang ada maintenance. Tetapi kami cukup puas berkeliling di Suria Park, taman yang ada di sekeliling Petronas.

IMG_0981 IMG_0933 IMG_0950 IMG_0914

IMG_1043

Suasana di sekitar Menara Petronas

IMG_1080 IMG_1115 IMG_1112 IMG_1111 IMG_1081 IMG_1061 IMG_1121

Suria Park

IMG_1125

Suasana di dalam Mall KLCC.

Setelah berkeliling di sekitar Petronas, kami kembali ke hotel untuk mengambil barang bawaan. Dan sebelum berangkat ke Singapore, kami menyempatkan diri mengunjungi Masjid. Sangat disayangkan karena kami hanya mengunjungi Kuala Lumpur 1 hari.

Backpacking (Thailand-Malaysia-Singapore) Part 4: Phuket Town

Setelah berkeliling di Siam, kami melanjutkan perjalanan menuju Phuket. Kami naik BTS (Bangkok Mass Transit System) Siam line dari stasiun Siam (dekat Siam Paragon) menuju Saphan Taksin, sesuai dengan informasi yang kami dapat di internet. Ternyata sesampainya di Saphan Taksin, tidak ada bus menuju Sa Tai Mai, karena daerah ini ternyata adalah pelabuhan kecil, jadi hanya ada perahu motor ke Grand Palace. Setelah kami bertanya ke banyak orang akhirnya kami diuruh berjalan ke arah stasiun BTS yang ternyata adalah stasiun Surasak, yaitu stasiun sebelum Saphan Taksin. Dari stasiun Surasak, kami mencari bus dengan nomor 149/164/177 ke arah Sa Tai Mai. Perjalanannya ternyata memakan lebih dari 2 jam, karena Sa tai Mai ternyata jauh sekali dari pusat kota Bangkok, dan kami pun sampai di Sa Tai Mai jam 18.00 sore.

Sa tai Mai merupakan terminal penghubung dari Bangkok ke luar kota Bangkok. Untuk menuju Phuket sendiri terdapat berbagai macam transportasi, seperti pesawat, kereta api dari Hua Lamphong, atau bus dari Sa Tai Mai. Kami memilih bus karena terminal bus di Phuket terletak di pusat kota, tidak dengan stasiun dan bandaranya. Kami memilih bus malam sekalian untuk menghemat biaya penginapan. Bus Bangkok-Phuket sendiri ada beberapa macam dan kami mengambil bus 2nd class yang harganya paling murah. Berbeda dengan di Indonesia, pelayanan bus disini sangat memuaskan. Bus terdiri dari 2 tingkat, dan kami mengambil tempat duduk di lantai 2 supaya bisa melihat pemandangan dengan nyaman. Fasilitas yang disediakan oleh bus ini adalah snack, makan malam di rumah makan yang tempatnya dibedakan antara makanan halal dan non halal, dan kopi hangat di pagi hari.

Kami tiba di terminal Phuket pukul 06.00 pagi. Kebetulan pagi itu cuaca sedang dingin-dinginnya karena turun hujan. Kami yang tiba di terminal yang ternyata merupakan Terminal 2 Phuket memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil membersihkan diri. Di Phuket sendiri terdapat 2 terminal bus, yaitu Terminal 1 yang menghubungkan daerah-daerah di sekitar kota Phuket, dan Terminal 2 yang menghubungkan Phuket dengan luar kota.

IMG_0880

Terminal 2 Phuket Town

Di Phuket, pantai merupakan objek wisata utama kota ini. Terdapat banyak pantai yang terkenal, seperti Patong Beach, kata Beach, Karon Beach, Nai Harn Beach, Kata Noi Beach, Surin Beach, Kamala Beach, dan masih banyak lagi. Selain pantai, phuket juga terkenal dengan cafenya, inilah yang menyebabkan banyak turis asing berlibur ke Phuket. Jika Indonesia memiliki Bali, maka Thailand memiliki Phuket.

Tujuan utama kami adalah ke Patong Beach, pantai yang paling banyak dikunjungi wisatawan di Phuket. Ternyata tidak ada angkutan kota ke Patong Beach, akhirnya kami menyewa taksi yang harganya tentu saja menguras kantong. Sesampainya di Patong Beach, suasana masih sepi sehingga kita bisa menikmati jalan-jalan di pantai dengan nyaman. Menjelang pukul 10.00 pagi, sudah banyak pengunjung yang datang, dan kebanyakan dari mereka adalah wisatawan asing. Banyak juga warga sekitar yang mulai membuka kios-kios mereka, mulai dari tempat makan, penyewaan kursi santai untuk berjemur, penyewaan parasailing, speedboat, jasa tato, dan lain-lain, sama seperti suasana di Kuta Bali.

IMG_0789

IMG_0792

IMG_0804IMG_0825

IMG_0853

Suasana Patong Beach pagi hari

Sebenarnya saya sedikit menyesal karena tidak sempat mengunjungi pantai-pantai yang masih asri dan belum banyak terjamah manusia. Kami pun hanya sempat berkeliling kota Phuket dengan bus yang ternyata tersedia dari Patong ke Terminal 1. Kemudian dari Terminal 1 lanjut ke Terminal 2 dengan angkutan kota terbuka berwarna pink. Kami baru menyadari bahwa seharusnya kami tidak naik taksi yang mahal karena ternyata ada angkot dan bus dari Teminal 2-Terminal 1-Patong Beach. Bagi kalian yang ingin berkeliling Phuket dan ternyata turun di Terminal 2, sebaiknya transit ke Terminal 1 dulu, dari sini kita dapat menuju berbagai macam objek wisata di Phuket.

IMG_0883 IMG_0867

Suasana kota Phuket dari dalam bus kota

Setelah selesai berkeliling kota dengan bus dan angkot pink, kami sampai di Terminal 2 jam 4 sore untuk mengejar bus ke Hat Yai yang merupakan terminal penghubung ke Kuala Lumpur. Sesampainya di Hat Yai, bus terakhir menuju Kuala Lumpur ternyata sudah berangkat, waktu itu kami tiba pukul 7 malam waktu setempat. Kami kebingungan karena tidak mempersiapkan diri untuk bermalam di Hat Yai. Untungnya ada satpam sebuah hotel yang dengan bahasa Thailand nya menawarkan untuk masuk. Dan beruntungnya lagi resepsionist hotelnya bisa bahasa Malaysia, jadi kami mengobrol dan dipersilahkan untuk menunggu di lobby hotel sampai esok hari tanpa dikenakan biaya. Keesokan harinya, kami diantar ke tempat travel agency yang memang khusus untuk ke Kuala Lumpur.

———————————————–

FYI:

Jika kalian membayangkan Phuket adalah pulau yang asri dengan pantai yang memiliki batuan yang menjulang, makai kalian salah. Jika ingin menikmati suasana film The Beach yang diperankan Leonardo Di Caprio, maka berkunjunglah ke tempat yang namanya Phi Phi Island. Phi Phi Island dapat ditempuh dari Phuket atau Krabi lewat kapal cepat.

Backpacking (Thailand-Malaysia-Singapore) Part 3: Bangkok Modern City (Siam Area)

Hari ke dua acara backpacking di Thailand berakhir di hotel. Hotel yang kami pilih adalah hotel di dekat Siam Skywalk. Skywalk ini menghubungkam mall-mall di kawasan tersebut, yaitu antara lain Siam Square, Siam Discovery, Siam Center, Siam Paragon, MBK Center yang merupakan salah satu tempat belanja murah di Bangkok, dan lain-lain. Lokasi hotel yang kami pilih ternyata sangat strategis, tinggal jalan kaki jika ingin ke tempat-tempat tersebut.

Setelah meletakkan barang di hotel, kami menuju ke MBK Center di malam hari, karena kami berencana untuk mengunjungi Madame Tussaud dan Ocean World keesokan harinya.  Di MBK ini barang-barang yang ditawarkan sudah ada harganya, jadi tidak perlu tawar menawar, dan harganya tentu saja lebih murah daripada tempat lain. Banyak kaos denan harga standar. Tetapi berhubung saya tidak berencana membeli kaos akhirnya saya membeli korek api untuk ayah saya. Teman saya malah membeli korek api yang ada pisaunya. Untung saja barang-barang ini lolos di bandara. Setelah menemukan barang yang kami inginkan, akhirnya kami kembali ke hotel untuk istirahat.

Keesokan harinya kami check-out pukul 07.30 pagi waktu setempat dan melanjutkan perjalanan ke Madame Tussaud yang terletak di gedung Siam Discovery, karena kami sudah memesan tiket masuk early bird di internet. Tentu saja tiket early bird ini lebih murah daripada tiket reguler, tetapi kita harus datang sebelum jam 12.00 siang. Tiket early bird ini bisa di pesan di http://www.madametussauds.com/Bangkok/en/BuyTickets/Tickets/EarlyBird.aspx. Disini juga terdapat tiket terusan ke Ocean World, tetapi tiket terusan ini hanya salah satunya yang early bird. Sebenarnya waktu yang dibutuhkan untuk mengelilingi Madame Tusssaud tidak sampai 3 jam, jadi masih sempat untuk masuk ke Ocean World sebelum jam 12.00 siang. Tiket early bird Ocean World bisa dipesan di sini http://www.siamoceanworld.co.th/online-ticket-tourist.php. Waktu itu kami sampai di Madame Tussaud tepat ketika pintu di buka, dan pada saat kami menyerahkan print out voucher tiket, kami ditawari tiket Ocean World dengan harga early bird, tentu saja kami langsung membelinya, mumpung harga diskon.

Di Madame Tussaud, kita bisa melihat patung lilin dengan wajah menyerupai tokoh-tokoh terkenal di dunia. Areanya terbagi menjadi beberapa zona, antara lain Red Carpet Zone, Music Zone, History Zone, Film Zone, Leader Zone, Authentic History, Art and Science Zone, TV Zone, dan Sport Zone.

IMG_0549

Pintu Masuk Madame Tusaud

Awal masuk, kita akan disambut dengan patung presidan-presiden di dunia, salah satunya adalah Presiden Soekarno. Merupakan suatu kebanggaan melihat patung lilin presiden pertama kita dipajang di sana. Selain Soekarno, terdapat pula patung-patung pesepak bola, superheroes, dan publik-publik figur lainnya seperti Nichkhun 2PM yang merupakan penyanyi/idola kebanggaan warga Thailand yang saat ini mengejar karir di Korea.

IMG_0555    IMG_0566

IMG_0563   IMG_0617   IMG_0590

IMG_0606

Soekarno, Prince William, Obama, Wolverine, Steven Gerrard, Nichkhun 2PM

Setelah selesai mengelilingi Madame Tussaud, kami mengunjungi Ocean World yang terletak di gedung Siam Paragon. Siam Discovery dan Siam Paragon dipisahkan oleh Siam Center. Jadi sembari menuju Siam Paragon, kami bisa sekaligus jalan-jalan di mall dan mengisi perut yang lapar. Sesampainya di Siam Paragon, kami kesulitan mencari Ocean World, dan ternyata Ocean World ini terletak di bawah tanah. Ocean World di Thailand merupakan Ocean World bawah tanah terbesar di Asia Tenggara.

IMG_0655

Jadwal pertunjukan Ocean World

Secara keseluruhan, menurut saya Ocean World ini lebih mengesankan daripada Madame Tussaud. Areanya sangat luas dan terbagi menjadi beberapa zona, antara lain Weird and Wonderful, Deep Reef, Living Ocean, Rain Forest, Rocky Shore, Open Ocean, dan See Jellies. Sedangkan untuk atraksinya ada Diver’s Communicaton, Animal Contact, Otter and Water Rat, Fresh Watre Fish Feeding, Penguin Feeding Show, Shark Feeding Show, dan Eagle Ray Feeding Show.

IMG_0742

IMG_0741

IMG_0721

Akuarium Ocean World

Berhubung saya belum pernah ke Ocean World Ancol, saya terkesima dengan keanekaragaman biaota laut di sana, namun sayang kami tidak sempat melihat atraksi pinguin karena harus segera berangkat ke termial Sa Tai Mai untuk melanjutkan perjalanan ke Phuket.

Backpacking (Thailand-Malaysia-Singapore) Part 2: Bangkok Old City (Rattanakosin Area)

Sudah sebulan sejak pulang dari Thailand-Malaysia-Singapura, tapi baru hari ini dapat mood buat nulis. Secara keseluruhan, acara backpacking bersama 2 orang teman saya berjalan lancar, meskipun perubahan jadwal dan estimasi biaya, tapi untungnya kami pulang dalam keadaan selamat.

Satu hal lagi yang perlu diketahui jika ingin backpacking bersama teman, pilihlah teman yang benar-benar dekat, karena akan banyak selisih pendapat ketika kalian berjalan berama. Jika kalian tidak mampu mengendalikan emosi, pulang-pulang hubungan persahabatan kalian bisa hancur, haha.. Apalagi jika backpacking sama pacar. Tapi untungnya kemarin kami bisa menyelesaikan salah paham dengan baik.

Lanjut ke cerita di Bangkok, setelah melakukan perjalanan udara selama 4 jam, akhirnya kami tiba di Don Muang Airport. Sedikit cerita, selama berada di dalam pesawat, saya bertemu dengan pemain naturalisasi Indonesia yang bermain di Persema, Malang. Siapa lagi kalau bukan Kim J. Kurniawan. Teman saya yang duduk tepat di sebelahnya langsung saya beritahu, tapi dia sama sekali tidak tahu tentang sepak bola, jadi ya gregetan aja pengen tuker tempat duduk, haha. Tapi lumayan bisa mengobrol walaupun hanya sebentar. Intinya mas Kim ini mau ngunjungi keluarganya di Bangkok, karena kakak (istri Irfan Bachdim) dan keluarganya tinggal di Bangkok sejak Irfan bergabung di salah satu klub di Thailand. Penilaian saya terhadap pesepak bola satu ini masih sama seperti ketika pertama kali melihatnya di TV, orangnya ramah.

Sesampainya di Bangkok, pertama kali menginjakkan kaki di kota ini, saya merasa familiar dengan hawa panas Bangkok. Mirip sama di Jakarta, panas walaupun sudah lewat jam 9 malam. Bandara ini ternyata jauh dari pusat kota, sehingga sedikit sekali bus yang menuju pusat kota. Berhubung kami akan bermalam di Khaosan Road, kami harus menunggu lebih dari sejam karena tidak semua bus no. 59 berhenti dekat Khaosan Road. Perlu diketahui bahwa ada 2 jenis bus no. 59, yang pertama hanya sampai Democracy Monument, dan kedua sampai Royal Hotel, carilah bus ke arah Khaosan Road dan mintalah berhenti di Royal Hotel, dari sana menyebrang ke patung yang ada di foto ini, kemudian menyebrang lagi ke Khaosan Road. Bertanyalah pada petugas Royal Hotel karena kebanyakan orang-orang yang lewat di jalan ini tidak mengerti Bahasa Inggris, dan jangan bertanya pada supir tuk-tuk karena mereka akan membawa anda berkeliling padahal tempat yang anda cari sebenarnya tinggal menyeberang jalan saja. Jika kalian melihat ada banyak wisatawan asing berkumpul, disitulah Khaosan Road berada, ditandai dengan pos polisi seperti di gambar, kemudian belok kanan. Sebelunya carilah hotel di sepanjang jalan Khaosan, karena kesalahan kami waktu itu adalah memesan hotel yang agak masuk ke gang-gang kecil sehingga sulit sekali menemukan tempatnya. Dan kesalahan kedua adalah kami memesan double bed padahal kami datang bertiga, akhirnya kami harus membayar biaya tambahan. Jadi sebaiknya memesan tempat tidur sesuai dengan jumlah orang.

khaosan

Peta menuju Khaosan Road

Khaosan Road ini ramai pada malam hari tapi sepi di pagi hari, karena banyak sekali wisatawan asing yang menikmati dunia malam atau sekedar jalan-jalan dan belanja di malam hari. Berhubung kami sampai di hotel sekitar jam 12 malam, kami memutuskan untuk langsung tidur. Keesokan harinya baru kami langsung check-out dan melanjutkan jalan-jalan dan berbelanja di Khaosan Road, dan di sinilah saya menemukan oleh-oleh pertama buat kakak dan adik saya, yaitu rok panjang dengan motif gajah. Kami juga menemukan restoran tempat syuting Running Man episode Nichkhun.

IMG_0238

Restoran tempat syuting Running Man

IMG_0242 IMG_0239 IMG_0236

Suasana Khaosan Road di pagi hari

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Grand Palace dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan menuju Grand Palace, kami disuguhi dengan pemandangan Klong Lot (sungai) yang melintang di sepanjang jalan Atsadang. Selait Klong Lot, perjalanan ini juga melewati bangunan-bangunan bersejarah lainnya seperti Ministry of Defence, Saranrom Palace, Saranrom Park, dll.

IMG_0284

City Pillar Shrine

IMG_0289

Ministry of Defence

Sepanjang jalan kami bertemu dengan orang-orang sok akrab dan menawarkan paket-paket perjalanan ke Grand Palace, Wat Arun, dan sebagainya. Jangan mudah percaya dengan orang-orang di sekitar tempat wisata, apalagi yang bisa Bahasa Inggris, karena mereka bermaksud untuk mengeruk uang wisatawan asing dengan cara mengajak ke tempat yang menjual souvenir mahal atau hanya sekedar berputar-putar di kota. Lebih aman naik bus kota atau jalan kaki jika memungkinkan.

Sebagai informasi, Rattanakosin adalah daerah bersejarah di Thailand yang ditandai dengan banyaknya peninggalan-peninggalan sejarah sepeti wat (candi) dan arca-arca. Tempat wisata yang paling terkenal di kawasan ini adalah Grand Palace yang di dalamnya terdapat Istana Kerajaan dan bangunan-bangunan lain sebagai pendukungnya. Berhubung pada saat itu sedang ada upacara keagamaan, pintu masuk Grand Palace baru dibuka pukul 12.00 waktu Bangkok. Akhirnya kami memutuskan untuk ke Wat Pho dulu. Wat Pho ini terkenal dengan Patung Budha Tidur Raksasa yang terbuat dari emas. Selain Patung Budha Tidur, banyak pula candi-candi yang bisa dijadikan objek bagus untuk difoto. Tiket masuk Wat Pho ini 100 THB.

IMG_0303

IMG_0348IMG_0304

IMG_0364

IMG_0384

Wat Pho

Setelah selesai berkeliling ke Wat Pho, kami istirahat sebentar sambil menunggu jam 12. Cuaca saat itu sangat terik dan panas, wisatawan yang berkunjungpun sangat banyak, karena saat itu adalah liburan musim panas, jadi banyak keluarga yang berwisata ke Thailand. Setelah jam 12, kami melanjutkan perjalanan ke Grand Palace yang pada saat itu baru dibuka sehingga terjadi penumpukan di pintu masuk. Meskipun dikatakan ada dua pintu masuk, yaitu depan dan belakang, sebenarnya yang dibuka untuk umum hanyalah pintu depan saja.

IMG_0389 IMG_0392

Perjalanan menuju Grand Palace

Pertama kali masuk, kami disambut dengan orang-orang yang menawarkan jasa foto dengan latar belakang taman dan jajaran candi dengan berbagai macam bentuk dan ukuran. Kamipun tidak melewatkan kesempatan untuk berfoto, tetapi tentu saya dengan kamera sendiri.

IMG_0393

IMG_0406

IMG_0409

Menuju pintu masuk Grand Palace

Setelah itu, kami membeli tiket masuk seharga 500 THB yang meliputi tiket ke Grand Palace dan museum. Berhubung atrian ke Grand Palace sangat panjang, kami menuju museum terlebih dahulu. Disana saya menemukan senjata semacam kujang dari Indonesia diantara ratusan koleksi peninggalan sejarah Rattanakosin. Tentu saja sini merupakan suatu kebanggaan bagi orang Indonesia.

IMG_0416

IMG_0439IMG_0442 IMG_0463IMG_0482 IMG_0484 IMG_0526IMG_0527IMG_0536

Grand Palace

Setelah selesai berkeliling di museum, kami melanjutkan perjalanan ke Grand Palace. Disini kami melihat berbagai macam arsitektur bangunan Thailand yang terlihat begitu megah, lebih megah dari yang ada di Wat Pho. Satu hal yang menjadi ciri khas dari bangunan-bangunan tersebut adalah banyak menggunakan material yang memantulkan cahaya, banyak sekali yang menggunakan emas sebagai pelapis dinding, sehingga banggunan-bangunan ini mempunyai kesan mewah dan megah, dan agak menyilaukan mata. Kawasan Grand Palace ini sangat luas, sehingga perlu waktu 3 jam lebih bagi kami untuk berkeliling di bawah terik matahari dengan membawa backpack di belakang punggung. Setelah puas menikmati keindahan Grand Palace, kami melanjutkan perjalanan ke hotel kedua di daerah Siam, pusat kota modern di Bangkok.

Photo Essay Book: L’s Bravo Viewtiful Part 1

IMG_0170

Untuk pertama kalinya saya membeli barang berbau kpop sejak saya menyukai kpop 5-6 tahun yang lalu, dan yang saya beli bukan album, melainkan photo essay. Alasan saya membeli buku ini adalah karena ini merupakan terobosan baru di dunia hiburan korea. Jika kebanyakan boygroup/girlgroup mengeluarkan album dan photo book yang berisi foto-foto mereka, buku ini menyajikan hasil jepretan L, member boygroup Infinite.

L’s Bravo Viewtiful terdengar janggal untuk orang-orang yang mengerti bahasa Inggris, terutama kata viewtiful-nya. Menurut Woolim Ent., viewtiful diartikan sebagai viewfinder+beautiful. Ternyata kata tersebut menjadi ikon L. Buku yang harganya 20.000 KRW ini berisi foto-foto yang diambil oleh L dalam waktu 93 hari. Kenapa 93 hari? Mungkin karena L lahir di tahun 1993. Selain buku yang covernya serba hitam sesuai dengan warna favorit L, terdapat bonus dvd making, poster, 7 postcards, dan notebook yang didalamnya diselipkan foto-foto L.

Buku ini berisi lebih dari 200 halaman full color. Kertas yang digunakan berukuran A5 dengan kualitas seperti majalah, tetapi agak tebal dan doff (tidak mengkilat). Sedangkan covernya menggunakan kertas linen/concord tebal warna hitam. Yang paling saya suka dari buku ini adalah foto-foto yang disajikan cukup bagus untuk kategori fotografer pemula. Foto-foto yang saya suka tentu saja foto-foto pemandanan alam.

IMG_0193

Sayangnya semua kalimat yang ditulis L dalam hangul semua, seharusnya Woolim juga menyajikan buku ini dalam versi internasional (bahassa Inggris) selain versi korea dan Jepang.